Kayangan,---
Antara percaya dan tidak, jika kita tidak menyaksikan secara langsung
penampakan bekas telapak kaki dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 2 meter
yang ditemukan baru-baru ini.
Awalnya bekas telapak kaki yang menempel di atas batu
tebing sungai Cempogok, ditemukan secara tidak sengaja oleh Himpunan Bajang
Adat Wet Sesait (Munajat-Sesait), Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara
(KLU).
Bebrapa anggota DPRD, Tokoh Masyarakat dan Himpunan
Bajang Wet Sesait, saat meninjau lokasi situs bersejarah (Telapak kaki
terbesar) di Sesait
“Benar, kami menemukannya secara tidak sengaja, ketika
kami sedang mengadakan pendataan situs-situs budaya dan sejarah Wet Adat
Sesait, menjelang dilaksanakannya Maulid adat Nabi Muhammad SAW,” ujar Hamdan
Wadi, Ketua Umum Munajat-Sesait kepada suarakomunitas.net, saat meninjau lokasi
bersama Wakil Ketua I DPRD KLU dan Anggota Komisi I DPRD KLU, serta
bersama tokoh-tokoh adat Sesait, serta beberapa media massa, Senin (13/6/2011).
Situs telapak kaki Datu Keling ini, untuk pertama
kalinya juga pernah dimuat di suarakomunitas.net awal Januari 2011 lalu.
Disamping bekas telapak kaki Datu Keling yang ditemukan ditebing sebelah kiri
montong cempogok tersebut, ada juga situs bekas duduk ketika istirahat berburu
dan telapak kaki kudanya Datu Keling yang lokasinya tidak jauh dari situs
telapak kaki tersebut.
"Di situs ini pula kita dapat saksikan bekas
aliran air kencing Datu Keling, yang masih terlihat jelas menempel di atas batu
kawasan batu kelat lante, sekitar 200 meter kearah selatan situs telapak
kaki,"terang Masidep, yang juga tokoh perbekel adat wet sesait ini.
Sampai dengan berita ini diturunkan, pencarian
situs-situs sejarah oleh pemerhati penulis sejarah yang tersebar diwilayah
Kayangan, masih terus dilakukan. Sehingga sebagian besar situs-situs sejarah
yang pernah jaya dan ada dimasa silam, bukti-buktinya hampir rampung
dikumpulkan,
Menrut keterangan tokoh Adat KLU, Djekat S.Sos. yang
juga anggota DPRD KLU, bahwa bekas telapak kaki ini erat kaitannya dengan
cerita rakyat atau dongeng masyarakat Sesait, yaitu kisah perjalanan Teruna
Keling (Datu Keling).
Konon ceritanya Datu Keling pernah berwasiat kepada
Kaula Balanya (Rakyat) jika suatu saat dia akan menghilang maka dia akan
meninggalkan bekas telapak kakinya. Sangat besar kemungkinan, jika bekas
telapak kaki ini adalah jejak Datu Keling seperti yang diwasiatkan.
Hal ini juga, dibenarkan oleh Juru Tulis Pembekel Adat
Wet Sesait, Masidep,S.Pd. Ia menambahkan bahwa kisah perjalanan Datu Keling
diabadikan dalam cerita Cupak Gurantang. Konon ceritanya, Teruna Kling memiliki
dua orang putra. Putra pertamanya bernama Cupak yang berkarakter rakus dan
sombong sedangkan putra keduanya bernama Gurantang adalah sosok yang lembut,
baik hati, jujur dan patuh kepada orang tua. Sehingga kisah cupak gurantang
diabadikan dalam bentuk drama oleh masyarakat, ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua I DPRD KLU,
Syarifudin SH. Ketika mengunjungi lokasi mengungkapkan bahwa situs sejarah ini
merupakan penemuan yang mampu menghebohkan dunia, karena belum pernah sepanjang
sejarah kita menemukan Bekas telapak kaki berukuran besar seperti ini. Tapi,
lanjutnya untuk membuktikan kebenaran sejarah dan keaslian bekas telapak kaki
manusia, kita harapkan para arkeolog untuk mengkaji secara ilmiah,disamping itu
kami akan mendesak pemkab KLU untuk
berkoordinasi dengan kelompok Sadar Wisata Wet Adat Sesait, alam melakukan
pembenahan tempat sebagai upaya revitalisasi potensi budaya, sehingga para
pengunjung dapat dengan mudah mengakses tempat ini. ( sesait comunity )
Komentar
Posting Komentar